Dampak Stunting pada Remaja

Halo sobat UNALA!

Pada selasa ceria ini, kita akan membahas tentang stunting. Istilah ini memang populer tahun lalu. Stunting sendiri merupakan masalah kurang gizi kronis yang diakibatkan kurangnya asupan nutrisi sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan yang lebih rendah (kerdil) dari anak seusianya. Dengan kata lain, stunting erat kaitannya dengan masalah kesehatan yang terjadi pada anak-anak dan berdampak hingga remaja. Mengapa demikian?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 20% kejadian stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan. Kondisi ini diakibatkan oleh asupan yang kurang berkualitas yang dikonsumsi oleh ibu, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Pertumbuhan di dalam kandunganpun mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Apabila stunting terjadi pada anak di bawah dua tahun, maka perlu segera ditangani, sebab jika stunting terlambat ditangani maka pertumbuhan anak akan terus terlambat hingga dewasa. Remaja akan terlambat pubertas, seperti menstruasi di atas 14 tahun bagi perempuan. Selain itu mereka akan berisiko terkena infeksi dan penyakit kronis menjadi lebih tinggi. Selain masalah fisik, stunting juga berpengaruh terhadap kesehatan mental, seperti sulit berkonsentrasi, kemampuan kognitif yang lemah, maupun rasa tidak percaya diri saat remaja karena tubuh yang lebih pendek dari teman sebaya.

Pemerintah telah berupaya untuk mencegah stunting. Hal ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global. Pemahaman masyarakat tentang stunting yang masih terbatas menjadi salah satu kendala atas usaha tersebut. Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Untuk memahami stunting dengan tepat, alangkah baik jika membicarakan masalah ini dengan dokter. Jangan lupa untuk tetap penuhi asupan gizi yang seimbang serta pola hidup yang sehat agar senantiasa dalam kondisi yang prima. Selain itu, tetap percaya diri dan selalu sebarkan energi positf untuk orang di sekitar kita.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai stunting, kalian dapat menghubungi customer line UNALA yang tersedia agar mendapatkan pengalaman konsultasi dengan dokter dan bidan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, namun juga ramah remaja, termasuk tentang masalah kesehatan reproduksi dan seksual. Kami tunggu kedatangan kalian! (MRA)

 

#UNALAcare


Referensi :

Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Makan, Pola Asuh dan Sanitasi

Mengenal Stunting, Kondisi Tubuh Anak Pendek yang Ternyata Berbahaya