Fakta Kesehatan di balik Sunat Perempuan

 

Halo sobat UNALA!

Tahukah kamu bahwa setiap 6 Februari diperingati sebagai Hari Internasional Nol Toleransi Bagi Praktik Sunat Perempuan, lho!

 

Apa sih Sunat Perempuan itu?

Menurut medis, sunat perempuan disebut dengan istilah FGM (Female Genital Mutilation), di mana dalam praktiknya dilakukan pemotongan pada sebagian klitoris perempuan tanpa alasan medis. Praktik ini dilakukan dengan cara yang beragam di dunia, mulai dari sunat secara simbolik, yaitu dengan menempelkan sesuatu pada klitoris perempuan hingga memotong klitoris secara keseluruhan.

 

Dalam laporan UNICEF tahun 2016, Indonesia menjadi negara ketiga tertinggi di dunia yang masih melakukan praktik sunat perempuan setelah Mesir dan Etiopia. Sebesar 49% atau sekitar 13,4 juta dari anak perempuan Indonesia yang berusia sebelum akhir baligh (11 tahun) mengalami sunat perempuan. Praktik tersebut masih banyak dilakukan di beberapa komunitas di daerah pantai hingga pegunungan yang masyarakatnya memeluk agama Islam, seperti Aceh, Bengkulu, Jawa Barat, Madura, Nusa Tenggara Ti mur, Kalimantan Barat, Sulawesi, dan Maluku. Alasan budaya dan perintah agama menjadi latar belakang praktik sunat perempuan masih dilakukan di Indonesia.

 

Di balik latar belakang tersebut, tenyata sunat perempuan tidak memberikan manfaat apapun pada kesehatan perempuan loh sobat UNALA. Bahkan menurut WHO, praktik ini justru dapat menganggu kesehatan perempuan. Apa saja kah itu?

1. Masalah Psikis

Seorang anak perempuan yang menjalani praktik sunat perempuan dapat tergangu psikisnya, mulai dari depresi, cemas, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), atau bayangan reka ulang terhadap pengalaman tersebut yang berkepanjangan, gangguan tidur dan mimpi buruk. Ganguan psikis dari sunat perempuan juga dapat memicu gangguan perilaku pada anak perempuan terhadap pengasuhnya loh sobat UNALA. Hmmm, sedih kan?

2. Komplikasi Langsung dan Jangka Panjang

Selain masalah psikis, sunat perempuan yang dilakukan tanpa prosedur medis yang benar dapat beresiko bagi kesehatan perempuan, tidak hanya pada organ reproduksi mereka, namun juga kesehatan tubuh perempuan. Masalah tersebut tidak hanya datang sesaat setelah sunat dilakukan, namun juga dapat berakibat pada kondisi kesehatan perempuan dalam jangka panjang. Perdarahan yang berlebihan,  pembengkakan jaringan genital, demam, infeksi dan adalah beberapa kasus yang dialami perempuan pasca sunat. Jika dibiarkan dalam waktu lama, perempuan diintai oleh masalah yang lebih bisar, mulai dari masalah pada organ reproduksi (keputihan, gatal, vaginosis bakteri dan infeksi lainnya), masalah menstruasi (nyeri haid, kesulitan mengeluarkan darah menstruasi, dll.), jaringan parut dan keloid hingga masalah seksual. Pendarahan hebat pasca sunat juga dapat mengakibatkan kematian bagi perempuan loh sobat UNALA!

3. Resiko Kehamilan, Persalinan Hingga Kematian Bayi Saat Lahir

Perempuan yang pernah menjalani sunat akan lebih sulit untuk hamil. Mereka juga memiliki resiko saat proses persalinan sehingga sebagian besar direkomendasikan untuk melakukan operasi caesar dengan masa rawat inap di rumah sakit yang lebih panjang, serta perdarahan pasca-persalinan. Resiko kematian bayi saat melahirkan pun menjadi masalah besar dari praktik sunat perempuan.

Saat ini Indonesia terus berupaya untuk mengakhiri praktik sunat perempuan, salah satunya ialah dengan mengurangi resiko-resiko kesehatan yang diakibatkan oleh praktik sunat perempuan melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 1636/MENKES/PER/2010.

 

So…gimana sobat UNALA, apakah kamu mau menjadi bagian dalam mengakhiri praktik sunat perempuan?

 

Yuk cari tahu informasi seputar kesehatan reproduksi lainnya melalui bidan dan dokter mitra UNALA agar kamu mendapatkan penjelasan yang akurat. Segera datangi kliniknya dengan membuat janji lebih dulu melalui CS UNALA ya sobat!

 

Referensi :


Sunat Perempuan (Masih) Membelenggu Perempuan

Female genital mutilation

Sunat Perempuan, Ritual Mutilasi Genital yang Mematikan