Cerita Fisa Sasmawati: Perjalanan Panjang Mencintai Diri Sendiri

#VolunteerStory

Oleh: Maulidya Risne Andini


Setiap orang melewati proses belajar dan menerima diri dengan cara yang berbeda-beda karena setiap orang tentunya mempunyai keunikannya masing-masing. Begitupun dengan diriku.

Dalam proses mencintai diriku sendiri kerap dipengaruhi oleh banyak hal, seperti pengetahuan dan pengalaman yang aku rasa dan dirasa orang lain.

Aku merasa sangat beruntung ketika punya pengetahuan terkait kesehatan seksual dan reproduksi yang bagi banyak orang dianggap sebagai hal yang tabu. Namun, bagiku ini adalah awal perubahan caraku memandang diriku dan dunia yang semakin luas. Menghargai pemberian Tuhan yang dititipkan di setiap tubuh manusia mungkin menjadi hal yg sulit bagi diriku yang dulu.

Saat itu, aku masih suka nyinyir dan mengeluh dengan kekurangan di tubuhku, “Aku benci banget! Kenapa aku jenong? Aku pendek?” batinku kala itu mempertanyakan kekurangan yang aku miliki.

Tak hanya terhadap diriku sendiri, aku dulu juga melakukannya terhadap tubuh orang lain, “Ih, kok style-nya aneh!”

“Pede banget pake baju kebuka gitu!” kataku dalam hati.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku dapat menerima perbedaan dan paham bahwa, “Setiap diri seseorang itu unik. Setiap orang punya cinta. Setiap orang berhak merasa nyaman dan aman.”

Satu hal lagi, perubahan cara pandang ku ini membuat aku menjadi pribadi yang lebih santai. Aku yang mengalami PCO (Polycystic Ovary) atau singkatnya adalah kelainan ukuran ovarium akibat tubuh kelebihan hormon androgen atau yang lebih karib kita sebut sebagai hormon laki-laki. Banyak perempuan khawatir dan takut dengan kondisi PCO karena takut susah hamil. Padahal, stigma masyarakat itulah yang membuat para perempuan panik dan takut berlebih.

Jika masih banyak yang menghadapi kondisi PCO dengan rasa was-was, aku bisa dibilang lebih santai dengan kondisiku, bahkan aku senang ketika aku tau kalo PCO karena aku sudah bisa mencintai diriku. Jahat memang ketika mendengar stigma, “Kamu kok gak hamil? Kamu belum bisa jadi perempuan karena belum jadi ibu.”

Oh, ya! Kamu tidak perlu takut dengan stigma yang ada, kamu itu tetap perempuan apapun kondisimu, girls! Ini tubuhmu dan kamu istimewa. Perlu kamu pahami bahwa tuhan menciptakan setiap diri kita itu unik.

Fisa Sasmawati, Volunteer UNALA sejak Juli 2018-sekarang