Mitos & Fakta Seputar HIV/AIDS

#UNALAfact

Oleh: Maulidya Risne Andini


WHATTT?? Ternyata ada yang menganggap HIV/AIDS merupakan upaya genosida, padahal hal ini salah banget.

Nah, apa aja sih mitos yang beredar seputar HIV/AIDS? Yuk, simak fakta-faktanya agar kita nggak salah informasi lagi! Berikut mitos yang beredar seputar HIV dan AIDS beserta penjelasan faktanya:

  1. Gigitan nyamuk bisa menularkan HIV

HIV tidak menyebar melalui gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya. Bahkan bila virus masuk ke dalam tubuh nyamuk atau serangga yang menggigit atau menghisap darah, virus tersebut tidak dapat mereproduksi dirinya dalam tubuh serangga. Hal ini disebabkan karena serangga tidak dapat terinfeksi HIV, serangga tidak dapat menularkannya ke tubuh manusia yang digigitnya.

  1. HIV bisa menular karena sentuhan biasa dengan orang yang sudah terinfeksi, misalnya berjabat tangan, berpelukan, pakai toilet, minum dari gelas yang sama dengan orang yang terkena HIV, atau terkena bersin atau batuk dari seseorang yang terinfeksi HIV.

HIV tidak ditularkan oleh kontak sehari-hari dalam kegiatan sosial, di sekolah, maupun di tempat kerja. Kita tidak dapat terinfeksi lantaran berjabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet yang sama, minum dari gelas yang sama dengan seseorang yang terinfeksi HIV, atau terpapar batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi HIV.

  1. Orang yang kurus kering, lesu, dan pucat, pasti sudah terkena HIV.

Kita tidak dapat mengetahui bahwa seseorang menyandang HIV atau AIDS hanya dengan melihat penampilan mereka. Seseorang yang terinfeksi HIV bisa saja tampak sehat dan merasa baik-baik saja, namun mereka tetap dapat menularkan virus itu kepada orang lain. Tes darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Intinya, hanya ada satu cara kalau kita ingin mengetahui seseorang terinfeksi HIV, yaitu dari hasil tes kita.

  1. Saya pasti tahu jika pasangan saya positif HIV karena gejalanya akan terlihat jelas.

Seseorang bisa memiliki HIV tanpa gejala apapun selama bertahun-tahun. Satu satunya cara untuk mengetahui apakah kita atau pasangan tertular HIV adalah dengan melakukan tes HIV.

  1. HIV dan AIDS adalah kutukan Tuhan terhadap perilaku manusia yang menyimpang.

Secara medis, AIDS bukanlah kutukan Tuhan terhadap perilaku penyimpangan manusia. AIDS adalah masalah kesehatan manusia dan bisa dijelaskan dengan ilmu kesehatan. Cara penularan dan pencegahannya pun bisa dipelajari, artinya jika kita mengikuti perilaku sehat yang dapat mencegah penularan maka kita tidak tertular HIV.

  1. Orang yang sedang menjalani terapi antiretroviral (ARV) tidak dapat menularkan HIV kepada orang lain.

Terapi antiretroviral (ARV) tidak dapat mencegah penularan virus ke orang lain. Terapi dapat membantu menurunkan pertumbuhan virus, namun HIV masih tetap ada dalam tubuh, dan dapat ditularkan ke orang lain melalui hubungan seksual, dengan bergantian memakai peralatan suntikan, atau melalui ibu yang terinfeksi HIV yang menyusui bayinya sendiri.

  1. Jika dinyatakan positif HIV artinya hidup kita sudah berakhir.

Pada tahun-tahun awal ketika AIDS menjadi epidemi, angka kematian akibat AIDS memang sangat tinggi. Tetapi, dengan kemajuan ilmu pengobatan saat ini, orang yang positif HIV, bahkan orang-orang dengan AIDS, bisa hidup lebih lama, normal dan produktif.

  1. AIDS adalah genosida.

HIV atau AIDS bukan konspirasi dari siapapun untuk membunuh pihak manapun. Tingkat infeksi yang lebih tinggi di daerah lain, misalnya di Afrika atau Amerika Latin, mungkin disebabkan oleh lebih rendahnya akses ke informasi dan perawatan kesehatan.

Nah, itulah fakta-fakta atas mitos yang beredar, mitos apa lagi yang pernah sobat UNALA dengar? Yuk, tanyain ke dokter mitra UNALA agar mendapat informasi yang valid!


Sumber: Buku Panduan untuk Siswa: Aksi Bergizi, Hidup Sehat Sejak Sekarang untuk Remaja Kekinian. (2019). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.