Manajemen Stres Remaja Sekolah di Masa Pandemi 2021

Ada banyak cara untuk membangun gairah belajar siswa lewat sesi diskusi atau talkshow. Seperti yang dilakukan oleh siswa-siswi SMA N 1 Jetis, Bantul pada tanggal 22 Maret 2021 yang turut mengundang UNALA sebagai narasumber. Bersama sejumlah pengurus OSIS, pihak sekolah menyelenggarakan kegiatan webinar yang disiarkan melalui kanal Youtube SMA N 1 Jetis dengan mengangkat tema “Manajemen Stres”. Menurut pihak sekolah, tema ini dipilih karena relevan dengan kebutuhan siswa-siswi saat ini yang masih menjalani kegiatan belajar di rumah di situasi pandemi Covid-19. Kegiatan dilaksanakan dengan protokol kesehatan dengan dihadiri oleh pengurus osis dalam jumlah terbatas.

Hadir sebagai narasumber yakni dr. Lucia Sri Rejeki selaku dokter Mitra UNALA dengan paparan informasi terkait penyebab & dampak stres untuk tubuh dan mental health sedangkan narasumber kedua Putri Khatulistiwa, Community of Practice (CoP) Officer UNALA yang menjelaskan topik terkait Self-love dan Self care.

 

Pemicu Stres pada Remaja Sekolah

Sebagai pembuka, dr. Lucia menjelaskan definisi stres dan pengaruhnya bagi remaja khususnya di situasi pandemi yang sudah berjalan lebih dari satu tahun ini. Kondisi-kondisi yang memicu stres pada remaja di sekolah meliputi situasi dimana remaja :

– menghadapi ujian

– menghadapi pelajaran yang rumit 

– berhadapan dengan guru

– lingkungan baru ketika pindah sekolah

 

Kondisi stres ini ditandai dengan gejala-gejala yang bermunculan ketika tekanan di dalam diri sudah terlalu berat. Gejala tersebut diantaranya; jantung mulai berdebar-debar hingga dada terasa sakit, ketegangan otot, seperti pegal, linu, di area tubuh tertentu, rasa pusing yang tidak sembuh-sembuh hingga gangguan di saluran pencernaan, mual, muntah dan diare.

 

Dampak-dampak Stres yang Tidak Terkendali

Bullying

Dampak yang perlu diwaspadai kemudian adalah perilaku bullying yang terjadi pada teman sebaya maupun dari senior kepada junior. 

Stres juga dapat menciptakan lingkaran stres, situasi dimana seseorang ‘terjebak’ dalam siklus aktivitas yang dilakukan setiap kali menghadapi stres, yang mungkin memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Misalnya kondisi stres yang diatasi dengan kebiasaan ngemil. Seseorang dengan kebiasaan ini, yaitu makan makanan ringan atau ngemil makanan berlemak ketika mengalami stres, maka bukan tidak mungkin memicu risiko kesehatan seperti kolesterol tinggi dan kegemukan. 

 

Gangguan Tidur

Gangguan tidur atau insomnia juga menjadi dampak negatif dari stres yang menumpuk. 

Pikiran yang berlebihan memicu timbulnya rasa gelisah, cemas, mudah marah, serta sulit berkonsentrasi. Perasaan yang muncul menjelang waktu tidur ini dapat mengganggu seseorang untuk terlelap atau memiliki kualitas tidur yang baik. 

Hubungi Tenaga Profesional

Gejala stres yang dialami seseorang maksimal berlangsung selama dua minggu, selebihnya segera hubungi tenaga profesional seperti psikolog, psikiater atau dokter. Apabila dibiarkan berlarut-larut tubuh mungkin tidak mampu menahan beban di dalam diri dan bisa berdampak pada gangguan tubuh lainnya. 

Stres yang tidak tertangani dapat menyebabkan depresi bahkan gangguan cemas atau gangguan jiwa yang lain. 

 

Kendalikan Stres-mu

Stres akibat situasi pandemi menjadi situasi yang mungkin tidak terelakkan saat ini. 

Menangis, adalah bagian dari mekanisme mengeluarkan uneg-uneg atas beban yang sedang dihadapi. Aktivitas ini lumrah dilakukan baik oleh laki-laki dan perempuan. Mengenali diri sendiri menjadi salah satu cara yang baik untuk mengendalikan stres atau mencari cara lainnya

 

Yang bisa dilakukan untuk mengendalikan stres diantaranya:

  1. Manajemen waktu. Ini berguna untuk mengatur waktu kita agar terus produktif tanpa mengesampingkan waktu untuk beristirahat atau melakukan hobi sebagai bagian mengelola stres.
  2. Identifikasi penyebab stres. Apa yang menyebabkanmu stres? Tugas sekolah yang menumpuk? Berkonflik dengan teman atau keluarga? Coba urai satu persatu permasalahanmu dan langkah yang akan kamu ambil untuk menghentikan penyebab stres.
  3. Penuhi asupan tubuh dengan nutrisi yang cukup sebagai sumber energi untuk berpikir dan beraktivitas. 
  4. Olahraga ringan. Lebih baik 10 menit setiap hari daripada seminggu sekali namun dalam durasi yang lama. 
  5. Istirahat yang cukup dengan tidur berkualitas yakni 8 jam. 
  6. Melakukan kegiatan yang menyenangkan hati, seperti menulis, berkebun, memelihara hewan untuk memanfaatkan waktu luang termasuk bercengkerama dengan keluarga. 
  7. Bercerita dengan orang yang dipercaya.

Ketika kamu sudah merasa dan sadar muncul gejala, kamu bisa bicarakan apa yang kamu keluhan dengan orang yang bisa dipercaya. 

  1. Melakukan teknik pernapasan.

Teknik ini berguna untuk membuat tubuh rileks. Caranya dengan menarik napas 3 detik, menahan napas 3 detik dan hembuskan, diulangi sebanyak 10 kali.

  1. Membatasi aktivitas bermedia sosial maksimal dua jam sehari. 

 

Akibat Stres bagi Kesehatan

Stres memicu munculnya hormon kortisol yang membuat meningkatnya detak jantung dan tekanan darah. Selain itu hormon ini menghambat produksi hormon insulin dan meningkatkan gula dalam darah. 

❌Hindari makanan manis dan kafein karena menambah beban gula darah dan menghambat kerja pankreas. 

❌Penyalahgunaan NAPZA sebagai pelarian situasi stres tidak menyelesaikan situasi namun justru berbahaya bagi tubuh karena menimbulkan ketergantungan. 

❌Self harm atau perilaku menyakiti diri sendiri akibat depresi.