Bersama Anak Muda Ciptakan Ruang Digital Aman Tanpa Kekerasan Berbasis Gender

“Salahnya sendiri pakai rok mini.”

 

“Makanya, perempuan jangan pulang malam sendirian.”

 

Komentar-komentar demikian tidak jarang kita dengar langsung atau kita baca di media sosial. Alih-alih menyalahkan pelaku atau mengedukasi masyarakat tentang kekerasan berbasis gender, netizen justeru menyalahkan korban yang seharusnya mendapat dukungan atau advokasi. Misalnya saja, dengan menyalahkan pakaian yang dikenakan korban, kenapa korban pulang malam dan sendirian hingga mengapa korban tidak melawan. Budaya patriarki yang menormalisasi kekerasan berbasis gender menjadi penyebab mendasar mengapa situasi demikian terjadi. Sebagaimana hal tersebut diungkapkan oleh Kalis Mardiasih, aktivis gender dan penulis buku, yang menjadi salah satu pembicara dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Community of Practice (CoP) Kreator Konten Kespro pada tanggal 30 Maret 2021 melalui platform Zoom. Acara yang diikuti tak kurang dari 90 partisipan tersebut mengangkat topik diskusi “Ruang Digital Tanpa Kekerasan Berbasis Gender”. Isu kekerasan berbasis gender di ruang digital atau biasa disebut Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), saat ini menjadi hal krusial untuk dibicarakan. Mengingat bahwa aktivitas berinternet maupun penggunaan platform digital menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Meski teknologi tersebut memudahkan, tak jarang dampak dari aktivitas ini berimbas kepada penggunanya. Sebut saja, penguntitan (stalking), perisakan, pelecehan seksual hingga ujaran kebencian, dengan beragam motif dari pelaku, seperti yang dijelaskan dalam paparan Ellen Kusuma dari SAFEnet. Tak kalah pentingnya, kekerasan berbasis gender yang terjadi di luar dunia maya atau secara langsung juga diungkapkan oleh Anindya Vivi, Co-Director Hollaback! Jakarta yang memiliki pengalaman bersama penyedia layanan ojek online (ojol) dalam mengkampanyekan anti kekerasan seksual di tempat publik. Seringkali pelanggan ojol (perempuan) menjadi korban pelecehan oleh pengemudi baik secara verbal maupun fisik, Vivi bersama penyedia layanan ojol kemudian mengedukasi para mitra (pengemudi) sebagai langkah pencegahan kekerasan berbasis gender.

 

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh anak muda sebagai bagian dari solusi?

Ael Napitupulu, dari YIFoS Indonesia yang juga anggota CoP, mendorong anak muda bersama komunitasnya agar ikut menggaungkan kampanye-kampanye anti kekerasan berbasis gender melalui media sosial, mengingat bahwa para anggota Community of Practice dan jejaring memiliki potensi yang kuat untuk menyebarluaskan semangat dari kampanye tersebut setidaknya dengan total followers Instagram tak kurang dari 200,000.

 

Dalam diskusi tersebut, peserta juga menyampaikan kegelisahannya bahwa setiap orang rentan mengalami kekerasan seksual di media sosial lantas bagaimana mengedukasi pelaku maupun korban. Kalis tak henti-hentinya mengajak seluruh anak muda maupun aktivis agar tidak lelah untuk memerangi praktik-praktik patriarki di sekitar kita, mengekspos pelaku maupun mengkampanyekan pencegahan KBGO ini. Sedangkan Ael turut mengajak anak muda mengambil bagian dengan menerapkan call out culture atau memprotes situasi ketidakadilan atau kesalahan individu/ kelompok melalui media sosial baik karena adanya relasi kuasa yang timpang baik berbasis kelas, ras, seksisme atau homofobik.[1] Di samping itu, keberpihakan kepada korban juga tak kalah penting, misalnya dengan klik yang kita lakukan pada postingan atau petisi yang dimuat untuk menggalang dukungan bagi korban KBGO.

 

Para partisipan juga membagikan opini dan pengalamannya melalui pertanyaan-pertanyaan yang seputar KBGO yang dipandu oleh moderator. Misalnya saja, body shaming yang kerap muncul di kolom komentar di media sosial menjadi bentuk KBGO yang paling sering disaksikan diikuti dengan penyebaran konten intin non-konsensual. Sedangkan advokasi tentang hak-hak digital di masyarakat dianggap sebagai langkah terpenting dalam penghapusan KBGO, sebelum adanya kebijakan dan payung hukum yang kuat dari pemerintah. Menurut para partisipan dalam mencari bantuan, korban-korban KBGO seringkali menghadapi sejumlah tantangan, bahkan yang paling sering terjadi adalah mereka tidak merasa bahwa sedang menjadi korban KBGO. Tantangan kedua adalah korban tidak tahu bagaimana cara mengakses bantuan sampai pada munculnya ketakutan distigma sebaai korban oleh masyarakat.

 

Webinar ini terselenggara atas kerjasama Siklus Indonesia selaku pelaksana program UNALA dan juga CoP, dengan dukungan dari UNFPA Indonesia dan Pemerintah Kanada. Acara turut dihadiri oleh perwakilan Kedutaan Besar Kanada Ibu Novi Anggriani, Direktur Siklus Indonesia, Ibu Ciptasari Prabawanti, Ph.D dan dr. Sandeep Nanwani dari UNFPA Indonesia.

 

[1] https://magdalene.co/story/call-out-culture-di-media-sosial-berfaedah-atau-bikin-lelah