Kenapa sih, Kita Overthinking?

Menjelang jam tidur, apakah kamu sering mengalami sulit tidur? Misalnya karena tiba-tiba kepikiran sesuatu yang belum selesai entah tugas, pekerjaan di kantor atau konflik dengan orang lain. Lama kelamaan kamu menghabiskan waktu untuk memikirkan sesuatu yang belum jelas akan berakhir seperti apa atau merasa khawatir karena ketidakpastian tersebut. Hmm, mungkinkah kamu seorang overthinker? Overthinker atau seseorang yang sering overthinking, memikirikan sesuatu secara berlebihan hingga muncul perasaan cemas atau khawatir. 

 

Meskipun overthinking mungkin tampak tidak berbahaya, namun dapat menyebabkan gangguan gaya hidup yang signifikan, seperti:

  • Persoalan terkait prokastinasi
  • Pesimistis, yang menyebabkan depresi
  • Masalah dengan kecemasan
  • Kehilangan produktifitas
  • Gangguan hubungan interpersonal
  • Menghambat kreativitas
  • Masalah dengan Self-esteem
  • Gangguan performa

 

Perilaku

Perilaku adalah cara kita berpikir dan bertindak. Penelitian menunjukkan, bahwa kita mempelajari sebagian besar perilaku pada usia delapan tahun. Perilaku-perilaku tersebut sangat dipengaruhi oleh siapa yang membesarkan kita. Jadi, lingkungan dimana kita tumbuh dan gaya pengasuhan orang tua berperan besar dalam membentuk kita berperilaku sebagai orang dewasa. Nah, salah satunya juga pada perilaku overthinking, atau berpikir secara berlebihan.

Berikut alasan kenapa kita jadi seorang overthinker:

  • Pengalaman terhadap peristiwa yang traumatis saat tumbuh besar
  • Dibesarkan oleh orang tua yang terlalu kritis
  • Pemikiran yang sangat analitis
  • Biasanya tumbuh dalam keluarga dengan batasan yang lemah atau tidak memiliki batasan
  • Umumnya memiliki masalah dengan self-esteem/ harga diri
  • Memiliki sifat perfeksionis
  • Sangat mudah khawatir, seperti membayangkan apabila hal buruk terjadi lalu memikirikan skenario terburuk

Satu dari sekian alasan di atas dapat mengarah pada berkembangnya perilaku overthinking. Semakin banyak alasan yang dimiliki, maka akan semakin lazim perilakunya.

Misalnya, individu yang sangat analitis adalah seseorang yang terlalu memikirkan segala sesuatunya selengkap mungkin. Terinformasi dengan baik dan cukup, pasti memiliki banyak manfaat. Namun, seorang overthinker terkadang tidak tahu kapan mereka berhenti pada kesimpulan yang “cukup pasti”. Ini akan menjadi semakin problematis ketika mereka mengetahui bahwa membuat kesalahan dapat menyebabkan kerusakan, termasuk kerusakan serius yang mengubah hidup. Di sinilah beberapa faktor lain ikut berperan.

Rasa Takut

Rasa takut merupakan alasan paling umum yang membuat seseorang overthinking. Dalam sebuah polling yang dilakukan oleh www.anxietycentre.com pada Juli 2019, tercatat bahwa 90 persen responden mengungkapkan bahwa mereka overthinking dengan segalanya, baik untuk mencegah hal buruk terjadi atau menghindari kesalahan fatal, terlihat bodoh, atau meyakini bahwa mereka tidak cukup baik.

 

“Kok bisa sih kamu membuat kesalahan sekonyol itu?”
“Makanya dipikirin dulu sebelum berbuat sesuatu!”
“Kamu kenapa sih, sampai bisa melakukan hal bodoh itu?”

 

Ungkapan-ungkapan tersebut, yang mungkin sering dikatakan orang tua atau guru kepada anak, dan membuat anak memiliki rasa takut jika disalahkan, dipermalukan atau dimarahi.

 

Overthinking lebih banyak menyebabkan kerugian daripada manfaatnya. Kecemasan, stres, dan stimulasi berlebihan yang diciptakan dapat merusak pengalaman hidup kita. Alih-alih memberi perlindungan yang membantu, overthinking justeru menciptakan kesulitan dan memicu masalah dengan kecemasan dan stres.

 

Stres

Stres berdampak negatif pada fungsi otak dan pemikiran kritis. Misalnya, stres menghambat area otak yang bertanggung jawab untuk berpikir kritis (korteks). Saat stres meningkat, penekanan korteks meningkat.

 

Stres juga meningkatkan aktivitas pada pusat ketakutan di otak, yang menyebabkan peningkatan pertambahan pemikiran.

 

Korteks juga berperan “mengerem kecemasan” yang menghentikan pikiran cemas. Saat korteks tertekan, dan pusat ketakutan semakin aktif, kita akan lebih sulit menghentikan pikiran cemas.

 

Pemecahan masalah menyebabkan pengerahan tenaga mental, yang juga membuat tubuh stres. Ketika pengerahan tenaga mental meningkat, stres meningkat, pikiran yang terus aktif tak henti-hentinya meningkat, dan kemampuan kita untuk berpikir jernih dan kritis menjadi menurun. Stres kronis adalah faktor umum yang memicu overthinking.

 

Overthinking BUKANLAH siapa kamu sebagai seseorang tetapi perilaku yang kamu pelajari, yang telah menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, overthinking merupakan perilaku yang bisa diubah jika kamu inginkan. Kamu bisa belajar cara yang lebih sehat untuk mengelola kesulitam ketidakpastian dan risiko, serta tetap dapat membuat keputusan yang baik dan aman.

 

Sumber:

 

  1. LC, Michl, et al. “Rumination as a mechanism linking stressful life events to symptoms of depression and anxiety: longitudinal evidence in early adolescents and adults.” Journal of Abnormal Psychology, May 2013.
  2. Luft, Caroline, et al. “Relaxing learned constraints through cathodal tDCS on the left dorsolateral prefrontal cortex.” Scientific Reports, 2017.
  3. Kaiser, Bonnie, et al. “Thinking too much”: A Systematic review of a common idiom of distress.” Social Science & Medicine, Dec 2015.
  4.  R. Sladky, A. Hoflich, M. Kublbock, C. Kraus, P. Baldinger, E. Moser, R. Lanzenberger, C. Windischberger. “Disrupted Effective Connectivity Between the Amygdala and Orbitofrontal Cortex in Social Anxiety Disorder During Emotion Discrimination Revealed by Dynamic Causal Modeling for fMRI.” Cerebral Cortex, 2013.
  5. Dias-Ferreira, Eduardo et al. “Chronic Stress Causes Frontostriatal Reorganization and Affects Decision-Making.” Science, Aug. 2005.
  6. Xin, Jim, et al. “Chronic stress affects decision-making strategies: structural and physiological correlates.” Frontiers in Systems Neuroscience, Jan. 2009.
  7. Mizuno, Kei, et al. “Mental fatigue caused by prolonged cognitive load associated with sympathetic hyperactivity.” Behavioral And Brain Functions, 23 May 2011.