Posts

Bagaimana Toxic Masculinity Memengaruhi Kesetaraan Gender

“Namanya juga laki-laki, wajar kalau sukanya berantem!”

“Aduh, cowok kok nangis sih?”

“Laki-laki masa’ pemalu?”

 

            Ungkapan-ungkapan di atas biasa kita dengar ketika seorang laki-laki kurang atau tidak memiliki sikap menunjukkan atribut maskulinitasnya. Maskulinitas didefinisikan sebagai suatu bentuk praktik-praktik yang disusun dalam kaitannya dengan struktur identitas dan relasi gender (Connell, 1987). Di dalam masyarakat patriarki, dimana laki-laki memiliki posisi lebih dominan dari perempuan. Atribut-atribut maskulin yang dikenal seperti: kuat, tidak boleh mengungkapkan perasaan, berani dan tegas yang umumnya dilekatkan pada laki-laki telah menjadi norma gender. Mereka yang tidak memiliki sifat-sifat ini dianggap belum menjadi laki-laki seutuhnya. Hal ini membuat laki-laki dituntut bersikap, berperilaku dan berpikir secara maskulin. Inilah yang kemudian membuat laki-laki terjebak dalam toxic masculinity atau maskulinitas beracun.

 Beberapa peneliti telah bersepakat bahwa toxic masculinity memiliki tiga komponen inti:

  • Kekerasan

Gagasan ini meyakini kalau laki-laki seharusnya kuat secara fisik, tidak memiliki perasaan emosional dan berperilaku agresif.

  • Anti Feminity 

Pandangan ini menolak segala atribut yang dianggap feminin, seperti menunjukkan perasaan, lemah lembut, atau menerima pertolongan.

  • Kekuasaan

Laki-laki harus bekerja untuk memperoleh kekuasaan dan status sosial maupun finansial agar dihormati oleh orang lain.

           Mereka yang belum dianggap maskulin oleh masyarakat rentan mengalami tindakan bullying atau kekerasan. Tidak jarang kita mendengar remaja laki-laki yang ekspresif, memiliki sikap lemah lembut atau pemalu menerima ejekan atau bahkan pelecehan dari sebayanya. Mirisnya, sikap-sikap semacam ini dilanggengkan oleh media kita sehari-hari, di televisi, media sosial maupun di grup-grup WhatsApp. Maskulinitas juga menekan laki-laki untuk tidak mudah mengungkapkan ekspresi atau emosi seperti kesedihan. Bukan tidak mungkin tekanan yang mereka alami berujung pada terganggunya kesehatan mental, seperti stres atau depresi. Alih-alih mengelola emosi dengan cara yang sehat, toxic masculinity membuat mereka mengungkapkan perasaan dengan kekerasan dan menunjukkan kekuasaan. Persoalan kekerasan yang terwujud akibat toxic masculinity seringkali muncul dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan dalam pacaran. Hal ini menyebabkan Toxic Masculinity ini tidak hanya merugikan bagi laki-laki namun juga perempuan. Perempuan akan selalu menjadi subordinat dan sulit untuk menempati posisi yang setara dengan laki-laki selama ketimpangan gender ini terus dipelihara. 

             Untuk mencapai kesetaraan gender maka laki-laki dan perempuan harus berada pada posisi yang sama serta tidak ada standar ideal yang mengatur pilihan identitas gender individu. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah memberi makna baru terhadap definisi maskulinitas yang ditentukan oleh masing-masing individu, bukan oleh masyarakat atau individu lain. Hal ini dapat berangkat dari pengalaman sebagai seorang manusia secara keseluruhan, sifat-sifat seperti saling bekerja sama, ketergantungan, kelembutan dan sebagainya. Meski tidak serta merta menghilangkan atribut maskulinitas tradisional, setidaknya laki-laki memiliki cara ‘baru’ dalam memaknai maskulinitas versi dirinya sendiri.

 

Sumber:

 

https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/masculinity

https://www.verywellmind.com/what-is-toxic-masculinity-5075107

https://www.medicalnewstoday.com/articles/toxic-masculinity#facilitating-change