Posts

Bagaimana Mencegah Penularan HIV & AIDS dan IMS?

#UNALAtips

Oleh: Maulidya Risne Andini


Gimana cara mencegah penularan HIV dan IMS lainnya? Apakah dengan Meminum minuman beralkohol seperti bir dan lain-lain?

Eits, salah! Daripada penasaran, mendingan simak infografis dari UNALA, yuk!

Hubungan IMS dan HIV

  • HIV termasuk salah satu IMS karena dapat ditularkan melalui hubungan seksual
  • Berganti-ganti pasangan seks tanpa menggunakan kondom merupakan perilaku berisiko tertular IMS termasuk HIV
  • Luka basah atau terbuka akibat IMS menjadi pintu masuk HIV langsung ke pembuluh darah sehingga mempermudah penularan HIV
  • Tertular IMS memperbesar resiko tertular HIV 1-9 kali lipat
  • Orang yang tertular HIV mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat diserang oleh HIV
  • IMS dapat menjadi Infeksi Oportunistik sehingga mempercepat masuk ke fase AIDS.

IMS tidak dapat dicegah dengan cara – cara sebagai berikut:

  • Meminum minuman beralkohol seperti bir dan lain-lain.
  • Minum antibiotik seperti super tetra, penisilin dan lain-lain, sebelum atau sesudah berhubungan seks, tidak ada satu obat pun yang ampuh untuk membunuh semua jenis kuman IMS secara bersamaan (kita tidak tahu jenis IMS mana yang masuk ke tubuh kita). Semakin sering meminum obat-obatan secara sembarangan malah akan semakin menyulitkan penyembuhan IMS karena kumannya menjadi kebal atau resisten terhadap obat.
  • Mendapatkan suntikan antibiotik secara teratur, pencegahan penyakit hanya dapat dilakukan oleh antibodi di dalam tubuh kita.
  • Memilih pasangan seks berdasarkan penampilan luar (misalnya, yang berkulit putih bersih) atau berdasarkan usia (misalnya, yang masih muda), anak kecil pun dapat terkena dan mengidap bibit IMS, karena penyakit tidak membeda-bedakan usia dan tidak pandang bulu.
  • Membersihkan/mencuci alat kelamin bagian luar (dengan cuka, air soda, alkohol, air jahe, dll) dan bagian dalam (dengan odol, betadine atau jamu) segera setelah berhubungan seks.

Tahapan Pencegahan HIV

  • A – Abstinence

Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali.

  • B – Be Faithful

Hanya berhubungan seksual dengan pasangan dan tidak dengan orang lain.

  • C – Condom

Berhubungan seksual dengan menggunakan kondom.

  • D – Drugs

Tidak menggunakan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) terutama NAPZA suntik.

  • E – Equipment and Education

Hanya menggunakan jarum suntik dan alat cukur sekali pakai, tidak bergantian, bersih dan steril.

Pencegahan Penularan Cara Lainnya:

  1. Mencegah masuknya transfusi darah tambahan yang belum diperiksa kebersihannya dari IMS ke dalam tubuh kita.
  2. Berhati-hati waktu menangani segala hal yang tercemar oleh darah segar.
  3. Mencegah pemakaian alat-alat tembus kulit yang tidak suci hama atau tidak steril terhadap diri kita, misalnya Jarum suntik, alat tato, alat tindik dan sejenisnya yang bekas dipakai orang lain. Jarum suntik yang baru biasanya masih dalam plastik dan dibuka di hadapan kita.

Prosedur Rujukan IMS dan Manfaat Layanan

  • Konseling sebelum tes IMS
  • Tes IMS
  • Konseling setelah tes IMS

Manfaat Layanan : kita akan lebih tahu sejak dini hasil dari pemeriksaan IMS dan lebih tepat dalam penanganan serta pengobatan apa yang diberikan oleh layanan jika kita positif IMS.

Kalau hasil tes IMS Negatif ?

  • Kita jaga terus supaya tetap aman dan sehat
  • Kita juga tetap perlu check kesehatan secara rutin

Kalau hasil tes IMS Positif ?

Tidak perlu panik, kita akan dibantu mendapatkan dukungan psikologis,sosial dan rujukan ke Pelayanan Kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan jenis IMS.

Nah, itulah tahap-tahap penanganan dan pencegahan terhadap HIV/AIDS dan IMS bagi remaja seperti kita. Semoga bermanfaat 🙂


Sumber: Anda dan HIV/AIDS, I. (2008). Kementerian Kesehatan RI. Buku Kesehatan dan Hak Seksual serta Reproduksi GWLmuda. (t.thn.). Jaringan Gaya Warna Lentera. Rachmi, Cut dkk (2019). Panduan untuk Siswa: Aksi Bergizi, Hidup Sehat Sejak Sekarang untuk Remaja Kekinian . Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Rapor Kesehatanku: Buku Informasi Kesehatan Peserta Didik Tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA. (2015). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.